Berita Berita Paroki

Diskusi Dokumen Abu Dhabi

Kunjungan Paus Fransiscus ke Abu Dhabi pada tanggal 03 Februari 2019 yang lalu telah menorehkan sejarah baru bagi dialog antar umat dan persaudaraan.

Pada tanggal 04 Februari 2019 telah di tandatangi “The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together” antara Paus Fransiscus dan Imam besar Al Ahzar Sheikh Ahmed El Tayeb. Dokumen tersebut lebih dikenal dengan sebutan Dokumen Abu Dhabi.

Dokumen Abu Dhabi ini menjadi jalan yang sungguh berharga untuk membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di antara umat beragama, dan berisi beberapa pedoman yang harus disebarluaskan ke seluruh dunia.

Berikut 12 poin penting dari dokumen tersebut:

  1. Keyakinan bahwa ajaran asli agama-agama mendorong manusia untuk hidup bersama dengan damai, menghargai kemanusiaan, dan menghidupkan kembali kebijaksanaan, keadilan, dan cinta kasih.
  2. Kebebasan adalah hak setiap orang. Pluralisme dan keberagaman agama adalah kehendak dan karunia Allah.
  3. Keadilan yang berlandaskan kasih adalah jalan untuk hidup yang bermartabat.
  4. Budaya toleransi, penerimaan terhadap kelompok lain, dan kehidupan bersama dengan damai akan membantu mengatasi pelbagai masalah ekonomi, sosial, politik dan lingkungan.
  5. Dialog antar agama berarti bersama-sama mencari keutamaan moral tertinggi dan menghindari perdebatan tiada arti.
  6. Perlindungan terhadap tempat ibadah adalah tugas yang diemban oleh agama, nilai kemanusiaan, hukum, dan perjanjian internasional. Setiap serangan terhadap tempat ibadah adalah pelanggaran terhadap ajaran agama dan hukum internasional.
  7. Terorisme adalah tindakan tercela dan mengancam kemanusiaan. Terorisme bukan diakibatkan oleh agama, melainkan kesalahan interpretasi terhadap ajaran agama dan kebijakan yang mengakibatkan kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan. Stop dukungan pada terorisme secara finansial, penjualan senjata, dan justifikasi. Terorisme adalah tindakan terkutuk.
  8. Kewarganegaraan adalah wujud kesamaan hak dan kewajiban. Penggunaan kata “minoritas” harus ditolak karena bersifat diskriminatif, menimbulkan rasa terisolasi dan inferior bagi kelompok tertentu.
  9. Hubungan baik antara negara-negara Barat dan Timur harus dipertahankan. Dunia Barat dapat menemukan obat atas kekeringan spiritual akibat materialisme dari dunia Timur. Sebaliknya, dunia Timur dapat menemukan bantuan untuk bebas dari kelemahan, konflik, kemunduran pengetahuan, teknik, dan kebudayaan dari dunia Barat.
  10. Hak kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan berpolitik harus diakui. Segala bentuk eksploitasi seksual dengan alasan apapun harus dihentikan.
  11. Hak-hak mendasar bagi anak-anak untuk tumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik, mendapat gizi yang memadai, pendidikan, dan dukungan adalah kewajiban bagi keluarga dan masyarakat. Semua bentuk pelecehan pada martabat dan hak anak-anak harus dilawan dan dihentikan.
  12. Perlindungan terhadap hak orang lanjut usia, mereka yang lemah, penyandang disabilitas, dan mereka yang tertindas adalah kewajiban agama dan sosial, maka harus dijamin dan dibela.
Drs. H. Masduki Baidlowi (Wakil Sekjen PBNU). Foto/ KOMSOS/ Ari Natanael

Untuk mensosialisasikan isi dari Dokumen Abu Dhabi tersebut Sie HAAK Paroki Duren Sawit mengadakan acara DISKUSI DOKUMEN ABU DHABI dan MENYIKAPINYA pada Minggu (01/03/2020) bertempat di Gd Yos Sudarso Lt 1.

Dalam diskusi tersebut bertindak sebagai moderator adalah: Ir Raymon T. Roy dari Ikatan Sarjana Katolik Indonesia.

Diskusi ini dinarasumberi oleh:

  1. Yustinus Prastowo dari FORGES (Forum Gradium Et Spes)
  2. Drs. Masduki Baidlowi yang merupakan wakil Sekjen PBNU sekaligus Staff Wapres RI
  3. Drs. Markus Sudibyo dari CSIS

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Romo Widyatmaka. SJ, Thomas Sugijata (Wakil I Dewan Paroki), para ketua wilayah dan ketua lingkungan serta perwakilan dari paroki-paroki se-Jakarta Timur.